Monday, April 22, 2013

21.04

Kartini...

Tahun 2013. Tahun ini...


Hari ini, kita hanya akan mengenang dia: Kartini. Perempuan Jawa. Pahlawan wanita yang paling diingat bangsa absurd ini. Dari segudang wanita yang berjuang untuk perubahan. Nama Kartini yang disebut, diingat dan dikenang.

Kemana yang lain?

Tidak hanya kita mengabaikan banyak perempuan lain yang menghembuskan atmosfir perjuangan. Kita sudah banyak lupa!

Kita lupa, bahwa perempuan bukan makhluk nomor dua. Hanya karena percaya jika Hawa diciptakan dari rusuk Adam. Kita lupa, untuk sebaiknya tak percaya pada tahayul yang sexist.

Kita lupa, perempuan memang istimewa tapi tidak perlu diistimewakan. Karena kami sama dengan yang laki-laki. Siapapun dari kami, tak perlu atau seharusnya merasa superior.

Kita lupa, kalau perempuan kadang lupa. Perempuan punya tenaga untuk membawa tasnya sendiri. Laki-laki pun lupa bahwa setiap orang, baik mereka sendiri atau perempuan, punya energi yang terbatas untuk membawa massa berat yang besarnya setengah dari badannya. Tak ada satupun dari mereka yang diciptakan dewa, berkekuatan mesin melawan hukum gravitasi.

Kita lupa, untuk berpikir lagi. Menjadi ibu, menjadi istri...bukan yang membentuk seorang perempuan menjadi seorang wanita. Bukan rahim dan jodoh yang menentukan nasib mereka.

Kita lupa, pernikahan bukan akhir yang indah. Anak tidak selalu jadi penyelamat. Perceraian sering pula menjadi jalan keluar dari kegelapan.

Kita lupa, pada siapapun kita menikah, perempuan tetap perempuan. Perpisahan tidak akan melumpuhkan. Perempuan akan tetap jadi wujud utuh, bernama manusia, seorang individu.

Kita lupa, hampir semua perempuan pasti pernah dikecewakan laki-laki. Tapi tidak semua dari mereka memilih untuk tidak menikah, kan? Jadi, jangan lupa bahwa ada perempuan tidak mau menikah, bukan karena trauma dikecewakan.

Kita lupa, perempuan bisa bahagia kala ia melangkah sendiri, tanpa rasa sepi. Namun heran, kita selalu lupa cerita tentang pria kesepian yang tersesat.

Kita lupa untuk tidak mengeluhkan 'kemana ibunya?' ketika seorang anak gagal dalam hidupnya.

Kita lupa menanyakan 'kemana ayahnya?' saat seorang anak dilanda masalah.

Kita lupa, selalu lupa, jika seorang anak adalah tanggungan kedua orang tuanya. Bukan cuma ibunya, bukan cuma ayahnya. Seorang...

Ayah sering kali lupa, jika si ibu (mungkin) juga bekerja. Labrakan 'saya kerja, kamu urus anak!' sudah tidak berlaku.

Semua lupa, jika dunia lebih kejam pada perempuan. Semua lupa untuk menyalahkan laki-laki yang berselingkuh, akan tetapi ingat untuk menyalahkan istrinya dan juga simpanannya. Mencari kekurangan mereka. Kita lupa, laki-laki juga 'manusia' yang punya hidup sendiri dan bukan robot yang harus terus disetel.

Dunia hanya akan lupa dan lupa...

... lupa jika perempuan pernah ada. Karena mereka hanya diajarkan untuk diam, duduk manis seperti boneka. Tidak pernah didengar. Hanya dilihat bak pajangan. Melupakan nyawa dan pikiran yang hidup, melupakan fakta bahwa mereka makhluk hidup, yang sama dengan yang (katanya) diciptakan pertama kali (oleh sumber yang tidak jelas).




21.04

... what happens in my bedroom, stays in my bedroom...

No comments:

Post a Comment

Thanks for reading! You're most welcome to leave some of your loveable words...